nyingmavolunteer.org – Sejumlah akademisi dan pakar ekonomi energi menilai RDMP strategis bagi stabilitas ekonomi nasional.
Penilaian tersebut disampaikan dalam diskusi swasembada energi di Bandung.
Para pakar menilai pengembangan kilang minyak nasional dapat menahan penguapan devisa.
Langkah ini juga dinilai memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
RDMP bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompleksitas kilang minyak dalam negeri.
Peningkatan ini diharapkan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak.
Akademisi sepakat efisiensi struktural akan tercipta melalui optimalisasi kilang nasional.
Efisiensi tersebut berdampak langsung pada stabilitas harga energi domestik.
Stabilitas harga energi dinilai berpengaruh pada daya beli masyarakat.
Harga energi yang terkendali membantu menjaga inflasi.
Pengamat ekonomi energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menjelaskan kondisi saat ini.
Ia menilai Indonesia masih rentan terhadap fluktuasi pasar global.
Baca juga:“Kementerian ESDM targetkan PNBP minerba 2026 capai Rp134 triliun”
Pemerintah Optimistis PNBP Minerba Tercapai Meski Produksi Dipangkas
Pemerintah tetap optimistis mencapai target PNBP sektor minerba.
Keyakinan itu disampaikan meski terdapat kebijakan pemangkasan produksi.
Wakil Menteri ESDM Tri menegaskan fokus pemerintah tidak hanya pada harga komoditas.
Pemerintah juga memperkuat pengawasan dan memperbaiki tata kelola minerba.
Tri menyebut pembenahan sistem menjadi kunci menjaga penerimaan negara.
Ia berharap kombinasi kebijakan tersebut mampu menutup potensi penurunan produksi.
“Bukan hanya dari harga, pengawasan dan tata kelola kami benahi,” ujar Tri.
Pernyataan itu disampaikan dalam agenda resmi sektor energi dan sumber daya mineral.
Pemerintah juga menyiapkan skenario alternatif menghadapi risiko pasar.
Skenario disiapkan jika harga komoditas global melemah atau bergerak datar.
PNBP ESDM 2025 Turun dari Target, Pemerintah Pangkas Produksi Batu Bara 2026
Penerimaan negara bukan pajak sektor ESDM pada 2025 belum mencapai target.
Realisasi PNBP ESDM tercatat sebesar Rp243,41 triliun.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan target APBN 2025 sebesar Rp255,5 triliun.
Selisih ini mencerminkan tekanan dari fluktuasi harga dan kebijakan produksi.
Kementerian ESDM sebelumnya telah mengantisipasi risiko tersebut.
Salah satu langkah utama ialah penyesuaian kebijakan produksi batu bara.
Pemerintah berencana memangkas produksi batu bara pada 2026.
Target produksi ditetapkan sekitar 600 juta ton.
Angka itu turun hampir 200 juta ton dibandingkan produksi 2025.
Pada 2025, produksi batu bara mencapai sekitar 790 juta ton.
Kebijakan penurunan produksi ini bertujuan menjaga keseimbangan pasar.
Pemerintah ingin menahan tekanan harga akibat pasokan berlebih.
Baca juga:“Komisi Eropa: Pasukan siap amankan Arktik, tarif Trump keliru”




Leave a Reply