BKPM Catat Investasi Triwulan I 2026 Rp498,8 T

nyingmavolunteer -Kementerian Investasi dan Hilirisasi mencatat realisasi investasi Indonesia mencapai Rp498,8 triliun pada triwulan pertama 2026. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan positif dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini juga mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa angka tersebut tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Pada triwulan pertama 2025, realisasi investasi tercatat sebesar Rp465,2 triliun. Peningkatan ini menunjukkan konsistensi pemerintah dalam menjaga momentum investasi.

Selain nilai investasi, penyerapan tenaga kerja juga mengalami peningkatan signifikan. Sepanjang periode Januari hingga Maret 2026, investasi menyerap 706.569 tenaga kerja. Angka ini naik 18,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini menandakan kontribusi investasi terhadap penciptaan lapangan kerja semakin kuat.

Rosan menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil dari berbagai kebijakan strategis pemerintah. Pemerintah terus mendorong kemudahan perizinan dan mempercepat hilirisasi industri. Upaya tersebut bertujuan menarik lebih banyak investasi berkualitas dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, realisasi investasi pada triwulan pertama telah mencapai 24,4 persen dari target tahunan. Pemerintah menargetkan total investasi pada 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Target tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga:“IHSG Berpotensi Melemah di Tengah Tekanan Sentimen Global”

PMDN dan PMA Seimbang, Singapura Pimpin Investasi ke Indonesia Triwulan I 2026

Kementerian Investasi dan Hilirisasi melaporkan komposisi investasi Indonesia pada triwulan pertama 2026 relatif seimbang. Penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) menunjukkan kontribusi hampir setara. Kondisi ini mencerminkan kekuatan investor domestik sekaligus daya tarik Indonesia bagi investor global.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa PMDN mencapai Rp248,8 triliun. Nilai ini setara 49,9 persen dari total realisasi investasi. Angka tersebut tumbuh 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, PMA mencapai Rp250 triliun atau sekitar 50,1 persen dari total investasi.

Rosan menilai keseimbangan ini sebagai sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional. Ia menegaskan bahwa peran investor domestik tetap kuat di tengah persaingan global. Di sisi lain, arus modal asing menunjukkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Dari sisi negara asal, Singapura menjadi investor terbesar dengan nilai sekitar 4,6 miliar dolar AS. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong sebesar 2,7 miliar dolar AS. China menyusul dengan investasi 2,2 miliar dolar AS. Amerika Serikat dan Jepang juga masuk lima besar dengan masing-masing 1,3 miliar dolar AS dan 1 miliar dolar AS.

Selain itu, pemerintah mencatat sektor industri logam dasar dan barang logam menjadi penyumbang terbesar investasi. Sektor ini menyerap dana sebesar Rp69,4 triliun. Jasa lainnya mengikuti dengan Rp64,2 triliun. Sektor pertambangan juga mencatat investasi signifikan sebesar Rp51,9 triliun.

Jakarta dan Jawa Barat Dominasi Realisasi Investasi Triwulan I 2026

Kementerian Investasi dan Hilirisasi melaporkan sebaran investasi nasional masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah utama. Pada triwulan pertama 2026, realisasi investasi terbesar tercatat di Jakarta dan beberapa provinsi strategis lainnya. Distribusi ini mencerminkan peran kawasan industri dan infrastruktur dalam menarik modal.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyebut lima wilayah dengan realisasi investasi tertinggi. Wilayah tersebut meliputi Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, dan Sulawesi Tengah. Kelima daerah ini menjadi pusat aktivitas ekonomi dan industri nasional.

Jakarta tetap menjadi magnet investasi karena statusnya sebagai pusat bisnis dan keuangan. Jawa Barat dan Banten menarik investasi melalui kawasan industri dan manufaktur. Jawa Timur menunjukkan pertumbuhan melalui sektor perdagangan dan logistik. Sementara itu, Sulawesi Tengah berkembang pesat berkat industri pengolahan berbasis sumber daya alam.

Rosan menjelaskan bahwa sebaran ini sejalan dengan strategi pemerintah dalam mendorong hilirisasi industri. Kawasan dengan infrastruktur kuat dan akses logistik baik cenderung lebih diminati investor. Hal ini juga didukung oleh kemudahan perizinan dan insentif investasi di daerah tertentu.

Selain faktor lokasi, stabilitas ekonomi dan kepastian regulasi menjadi pertimbangan utama investor. Pemerintah terus memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif.

Baca juga:“Harga Emas Tiga Merek di Pegadaian Serentak Turun Kamis Pagi Ini”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *