DEN Gandeng ITS Susun Peta Jalan Energi Nasional

DEN Gandeng ITS Susun Peta Jalan Energi Nasional

nyingmavolunteer -Dewan Energi Nasional (DEN) menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk menyusun peta jalan atau roadmap implementasi Kebijakan Energi Nasional. Langkah ini bertujuan memperkuat strategi transisi energi, ketahanan energi, dan penyiapan sumber daya manusia (SDM) energi masa depan.

“Kewajiban kami adalah mensosialisasikan apa yang ada di dalam kebijakan energi nasional terkait strategi penurunan emisi karbon, skenario permintaan energi ke depan, dan kemampuan suplai energi,” ujar Anggota DEN periode 2026-2030, Satya Widya Yudha, di ITS Surabaya, Senin.

Menurutnya, kebijakan energi nasional ini telah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2025 yang merupakan payung hukum strategis dan bersifat mengikat. DEN hadir di ITS untuk membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi sekaligus menyerap masukan akademik.

“Tadi sudah kita sampaikan ada kesepakatan membuat roadmap terhadap bagaimana kita bisa merealisasikan kebijakan energi nasional dan apa saja yang ITS bisa berkontribusi,” ucap Satya.

Wakil Rektor ITS Prof Agus Muhammad Hatta mengungkapkan, perguruan tinggi memegang peran strategis, terutama dalam penguasaan teknologi energi dan penyiapan SDM. Hal ini termasuk penyesuaian kurikulum untuk mendukung profesi di bidang energi terbarukan hingga ekonomi hijau.

Satya juga menyoroti kondisi energi saat ini. Pemerintah masih mempertahankan harga BBM jenis Pertalite dan LPG 3 kg di tengah gejolak harga energi global. Karena subsidi masih berbasis komoditas, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hemat energi, seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke kendaraan listrik bagi yang mampu.

Baca juga:UMKM Siapkan Aturan Baru Terkait Biaya Layanan E-Commerce

Subsidi BBM dan LPG 3 Kg Tetap di Tengah Gejolak Hingga Akhir Tahun

Dewan Energi Nasional (DEN) menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Keduanya sepakat menyusun peta jalan implementasi Kebijakan Energi Nasional. Anggota DEN Satya Widya Yudha mengungkapkan hal itu di ITS Surabaya, Senin (18/5/2026). “Tadi kita sepakat membuat roadmap untuk merealisasikan kebijakan energi nasional. ITS akan berkontribusi sesuai keahliannya,” ujarnya.

Pemerintah masih mempertahankan harga BBM Pertalite dan LPG 3 kilogram. Kebijakan ini berlaku hingga akhir tahun. Gejolak harga energi global tidak membuat harga naik. Subsidi masih berbasis komoditas. Satya mengimbau masyarakat hemat energi. Kurangi penggunaan kendaraan pribadi. Bagi yang mampu, beralihlah ke kendaraan listrik.

“Ke depan, pemerintah mengumpulkan data masyarakat rentan. Subsidi akan diarahkan langsung kepada yang berhak. Bukan lagi subsidi komoditas,” jelas Satya.

Kebijakan energi nasional tertuang dalam PP Nomor 40 Tahun 2025. DEN berkewajiban mensosialisasikan strategi penurunan emisi karbon. Juga skenario permintaan dan suplai energi masa depan. ITS berperan dalam penguasaan teknologi dan penyiapan SDM. Kurikulum akan disesuaikan dengan kebutuhan energi terbarukan.

Satya menambahkan, wacana pembatasan BBM subsidi berdasarkan kapasitas mesin mulai digulirkan. Langkah ini bisa memangkas volume subsidi 10-15 persen. Tujuannya tepat sasaran. Dengan roadmap yang matang, transisi energi menuju net zero emission 2060 diharapkan berjalan mulus. Subsidi tepat guna dan perilaku hemat energi menjadi kunci keberhasilan bersama.

Perguruan Tinggi Wajib Sesuaikan Kurikulum untuk Energi Terbarukan dan Ekonomi Hijau

Wakil Rektor ITS, Prof Agus Muhammad Hatta, menegaskan peran strategis perguruan tinggi. “Perguruan tinggi, SDM, dan riset menjadi bagian penting dalam kebijakan energi nasional. Roadmap penguasaan teknologi energi dan kesiapan SDM energi harus segera disiapkan,” katanya di ITS Surabaya, Senin (18/5/2026).

Ia memberi contoh pengembangan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya). Sektor ini butuh teknisi dan insinyur dalam jumlah besar. Perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulum. Tujuannya mendukung profesi di bidang energi terbarukan dan ekonomi hijau. Menurut Agus, penyusunan roadmap energi harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Target ketahanan dan kemandirian energi nasional pada 2050–2060 bisa tercapai jika semua pihak berkolaborasi.

Data Kementerian ESDM menunjukkan target bauran energi terbarukan pada 2050 mencapai 60 persen. Sementara itu, kebutuhan tenaga kerja di sektor energi hijau diperkirakan mencapai 3,7 juta orang pada 2030. ITS sebagai salah satu kampus teknologi terkemuka di Indonesia telah membuka program studi baru, seperti Teknik Energi Terbarukan dan Manajemen Ekonomi Hijau.

Dewan Energi Nasional (DEN) sebelumnya menggandeng ITS menyusun peta jalan implementasi Kebijakan Energi Nasional. Kebijakan ini tertuang dalam PP Nomor 40 Tahun 2025. Fokusnya pada strategi penurunan emisi karbon, skenario permintaan energi, dan kemampuan suplai. Dengan sinergi antara DEN, ITS, dan industri, transisi energi menuju net zero emission 2060 bukan sekadar wacana. SDM yang kompeten dan teknologi yang dikuasai akan menjadi fondasi kemandirian energi bangsa.

Baca juga:Celios Ingatkan Risiko PHK Akibat Rupiah Melemah Harus Diantisipasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *