Menkeu: Defisit APBN Turun ke 0,64 Persen di April

Menkeu: Defisit APBN Turun ke 0,64 Persen di April

nyingmavolunteer -Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan kondisi APBN yang membaik. Defisit anggaran tercatat 0,64 persen terhadap PDB. Nilai defisit tersebut mencapai Rp164,4 triliun. Angka ini dihitung per 30 April 2026. Sebagai perbandingan, defisit per 31 Maret mencapai 0,93 persen. Saat itu nilai defisit Rp240,1 triliun. “Defisitnya tinggal Rp164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB. Keadaan membaik,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (19/5/2026) di Jakarta.

Pendapatan negara menunjukkan kinerja positif. Realisasi pendapatan mencapai Rp918,4 triliun. Angka ini setara 29,1 persen dari target APBN. Target tahunan sebesar Rp3.153,6 triliun. Pendapatan tumbuh 13,3 persen dibanding periode sama tahun lalu. Sektor perpajakan menjadi penopang utama.

Penerimaan perpajakan tumbuh 13,7 persen. Nilainya mencapai Rp746,9 triliun. Rinciannya, penerimaan pajak tumbuh 16,1 persen. Realisasi pajak mencapai Rp646,3 triliun. Sementara itu, kepabeanan dan cukai tumbuh tipis 0,6 persen. Nilainya menjadi Rp100,6 triliun.

Kinerja positif ini didorong oleh kepatuhan wajib pajak dan kinerja ekonomi domestik. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,18 persen. Inflasi terkendali di 2,3 persen. Kombinasi kebijakan fiskal yang disiplin dan stimulus yang tepat sasaran mulai membuahkan hasil.

Pemerintah optimis defisit APBN dapat terus ditekan hingga akhir tahun. Target defisit APBN 2026 dalam Perpres 17/2025 ditetapkan sebesar 2,5 persen. Capaian 0,64 persen pada April menunjukkan ruang fiskal yang sehat. Ke depan, pemerintah akan menjaga momentum dengan mengoptimalkan pendapatan dan belanja produktif. Reformasi perpajakan dan digitalisasi sistem penerimaan terus diperkuat. 

Baca juga:Harga Minyak Mentah Indonesia Melonjak ke 117,31 Dolar AS per Barel

Penerimaan Pajak Melonjak 16,1% dari Minus 10,8% Tahun Lalu

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit APBN membaik. Per 30 April 2026, defisit hanya 0,64 persen terhadap PDB. Nilainya Rp164,4 triliun. Sebulan sebelumnya defisit 0,93 persen. “Artinya, kami akan usahakan ke arah sana. Ini (penerimaan pajak) jelas lebih bagus dibandingkan April tahun lalu yang minus 10,8 persen,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (19/5/2026).

Pendapatan negara tumbuh 13,3 persen. Realisasinya Rp918,4 triliun, 29,1 persen dari target. Penerimaan perpajakan naik 13,7 persen menjadi Rp746,9 triliun. Rinciannya, pajak tumbuh 16,1 persen (Rp646,3 triliun), sementara kepabeanan dan cukai tumbuh 0,6 persen (Rp100,6 triliun). Pendapatan negara bukan pajak (PNBP) tumbuh 11,6 persen menjadi Rp171,3 triliun.

Di sisi lain, belanja negara tumbuh signifikan 34,3 persen. Realisasinya Rp1.082,8 triliun, 28,2 persen dari target. Belanja pemerintah pusat melonjak 51,1 persen menjadi Rp826 triliun. Purbaya menjelaskan lonjakan ini karena strategi pemerataan penyaluran belanja sepanjang tahun. Target defisit APBN 2026 dalam Perpres 17/2025 adalah 2,5 persen. Capaian 0,64 persen pada April menunjukkan ruang fiskal sehat.

 Keseimbangan Primer APBN Kembali Surplus Rp28 Triliun per April 2026, Transfer ke Daerah Masih Terkontraksi 1%

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan perkembangan APBN per 30 April 2026. Realisasi transfer ke daerah (TKD) tercatat masih terkontraksi 1 persen. Nilai TKD mencapai Rp256,8 triliun. Kondisi ini berbeda dengan belanja pemerintah pusat yang tumbuh 51,1 persen.

Adapun keseimbangan primer berbalik surplus. Sebelumnya posisi ini mengalami defisit. Kini surplus tercatat sebesar Rp28 triliun. “Keseimbangan primer surplus menandakan fiskal masih cukup memadai. Pemerintah mampu mengelola pendapatan, belanja, dan utang,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa,

Defisit APBN secara keseluruhan turun menjadi 0,64 persen terhadap PDB. Nilainya Rp164,4 triliun. Pendapatan negara tumbuh 13,3 persen menjadi Rp918,4 triliun. Penerimaan pajak melonjak 16,1 persen, jauh lebih baik dibanding April 2025 yang minus 10,8 persen.

Ke depan, pemerintah akan terus mengoptimalkan realisasi TKD agar tepat sasaran. Surplus keseimbangan primer menjadi bantalan fiskal yang sehat. Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan global. Masyarakat diimbau mendukung kebijakan fiskal yang transparan dan akuntabel.

Baca juga:Rupiah Berpotensi Menguat di Tengah Penundaan Serangan AS ke Iran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *