Mentan Ajak Kampus Kawal Inovasi Hilirisasi Pertanian

nyingmavolunteer -Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengajak perguruan tinggi berperan aktif dalam mempercepat hilirisasi sektor pertanian. Ia menilai kampus dapat menjadi motor inovasi untuk meningkatkan nilai tambah produk dan daya saing nasional. Langkah ini juga mendukung penguatan kemandirian serta ketahanan pangan Indonesia.

Amran menyampaikan ajakan tersebut saat menghadiri Idul Fitri FunFest 2026 yang digelar oleh Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Jakarta. Ia menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri dalam mengembangkan teknologi pertanian berbasis riset.

Menurutnya, capaian stok beras nasional yang diproyeksikan menembus lima juta ton harus diikuti dengan inovasi berkelanjutan. Kampus dinilai memiliki peran strategis dalam menciptakan teknologi pengolahan hasil pertanian. Inovasi tersebut dapat memperpanjang rantai nilai dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Amran juga menyoroti keberhasilan Indonesia dalam mencapai swasembada sembilan komoditas pangan strategis. Ia menyebut capaian ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Produksi pangan nasional menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan peningkatan produksi padi dan komoditas utama lainnya. Namun, tantangan masih muncul pada aspek distribusi, pengolahan, dan pemasaran hasil pertanian. Oleh karena itu, hilirisasi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga dan meningkatkan daya saing global.

Baca juga:“Semen Indonesia Tembus Afrika, Ekspor Perdana Klinker ke Mauritania”

Peran Kampus Dalam Hilirisasi dan Dampak Produksi Beras Nasional

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan peningkatan produksi beras nasional telah mengurangi ketergantungan impor. Ia menyebut kondisi ini memberi dampak positif terhadap stabilitas pasar pangan global. Pemerintah kini fokus menjaga keberlanjutan produksi dan memperkuat inovasi berbasis riset.

Amran menjelaskan Indonesia sebelumnya mengimpor hingga tujuh juta ton beras setiap tahun. Kini, Indonesia tidak lagi melakukan impor beras dalam jumlah besar. Menurutnya, perubahan tersebut turut memengaruhi harga pangan dunia yang cenderung menurun.

“Dulu kita impor 7 juta ton beras. Sekarang kita tidak impor. Dampaknya, harga pangan dunia turun,” ujarnya. Ia menambahkan keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolektif pemerintah, petani, dan berbagai pemangku kepentingan.

Meski demikian, Amran mengingatkan tantangan sektor pertanian ke depan semakin kompleks. Ia menilai peningkatan produksi saja tidak cukup untuk menjaga ketahanan pangan. Pemanfaatan inovasi dan teknologi menjadi faktor penting dalam meningkatkan efisiensi dan nilai tambah.

Ia menekankan peran perguruan tinggi harus lebih konkret dalam mendukung hilirisasi pertanian. Kampus diharapkan tidak hanya fokus pada penelitian, tetapi juga pada implementasi teknologi di lapangan. “Kampus harus hadir dengan aksi nyata, bukan seremoni,” tegasnya.

Menurut Amran, kualitas riset di kampus Indonesia sudah cukup baik. Namun, masih terdapat kelemahan pada proses hilirisasi dan pemasaran hasil inovasi. Banyak hasil penelitian belum mampu menjangkau kebutuhan industri dan masyarakat luas.

Ia mendorong Institut Teknologi Sepuluh Nopember untuk mengambil peran strategis dalam menghadirkan teknologi terapan. Fokus pengembangan mencakup alat mesin pertanian, kendaraan listrik, dan solusi berbasis kebutuhan lapangan.

Produksi Massal Inovasi Kampus dan Perkuat Kolaborasi Pertanian

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya produksi massal inovasi kampus untuk mendukung hilirisasi pertanian. Ia menilai inovasi tidak cukup berhenti pada tahap riset atau prototipe. Implementasi nyata di lapangan menjadi kunci peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian.

Sebagai contoh, Amran menyoroti pengembangan traktor perahu hasil inovasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Teknologi ini dirancang untuk membantu petani di wilayah lahan rawa dan perairan. Ia meminta agar inovasi tersebut terus disempurnakan dan segera diproduksi secara massal.

“Traktor perahu ini sudah bagus. Terus diperbaiki dan dikembangkan melalui rekayasa,” ujarnya. Ia menegaskan pemerintah siap mendukung inovasi dalam negeri yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.

Amran juga menyatakan pemerintah membuka peluang penyerapan produk inovasi kampus. Namun, ia menekankan pentingnya komitmen terhadap kualitas dan kapasitas produksi. Kampus harus berani mengambil tanggung jawab dalam skala industri.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam membangun kemandirian nasional. Menurutnya, tidak boleh ada sekat antar perguruan tinggi dalam mengembangkan inovasi. Sinergi menjadi kunci percepatan hilirisasi teknologi pertanian.

“Kita harus bergandengan tangan. Tidak ada lagi sekat antar kampus. Semua harus bekerja untuk kepentingan nasional,” tegasnya. Ia mengajak seluruh perguruan tinggi dan alumni untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan sektor pertanian.

Kementerian Pertanian mencatat sembilan komoditas strategis telah mencapai swasembada. Komoditas tersebut meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah. Capaian ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam produksi pangan nasional.

Baca juga:“Update Rupiah Hari Ini: Rp17.083 per Dolar AS”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *