nyingmavolunteer – Direktur Program dan Kebijakan Center of Policy Studies, Prasasti Piter Abdullah, menilai digitalisasi layanan keuangan sangat bermanfaat. Fitur “kantong” di bank digital tidak hanya untuk pengaturan keuangan pribadi. Fitur ini juga dapat membantu bisnis UMKM.
“Melakukan edukasi ke UMKM ini saya rasa bagus banget. Di bank digital tersedia fasilitas fitur kantong. Dengan kantong itu, kita jadi tahu kondisi keuangan secara real,” kata Piter dalam keterangan di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Data survei Katadata Middle Class Insight (KIMCI) mendukung hal ini. Sebanyak 51,8 persen masyarakat kelas menengah memisahkan pengeluaran berdasarkan kebutuhan. Tren ini sejalan dengan popularitas fitur kantong pada layanan keuangan digital. Fitur tersebut membantu pengguna mengatur keuangan lebih terstruktur.
Survei tersebut juga mengungkap tiga kebiasaan teratas kelas menengah. Pertama, merencanakan pengeluaran dan pendapatan (68 persen). Kedua, membedakan uang untuk tagihan bulanan dan keperluan sehari-hari (51,8 persen). Ketiga, mencatat pengeluaran (44,9 persen).
Piter menambahkan bahwa UMKM dapat mengadopsi metode serupa. Dengan fitur kantong, pelaku usaha bisa memisahkan modal, biaya operasional, dan tabungan. Ini meningkatkan disiplin keuangan. Digitalisasi juga memudahkan pemantauan arus kas secara real-time.
literasi digital bagi UMKM perlu terus digencarkan. Bank digital dan regulator dapat berkolaborasi. Mereka bisa menyediakan pelatihan penggunaan fitur kantong. Dengan pengelolaan keuangan yang baik, UMKM lebih sehat dan berkembang. Kelas menengah pun semakin melek finansial. Ini berkontribusi pada stabilitas ekonomi nasional.
Baca juga:Update Harga Pangan: Cabai Rawit Rp70.450/Kg, Telur Ayam Rp28.900/Kg
86% Masyarakat Tahu Fitur ‘Kantong’ Bank Digital, 9 dari 10 Pengguna Rasakan Dampak Keuangan Lebih Sehat
Survei lembaga independen mengungkap temuan menarik. Sebanyak 86 persen masyarakat sudah mengetahui fitur “kantong” di bank digital. Fitur ini diadopsi berbagai bank seperti Bank Jago, BCA, dan Mandiri. Survei yang sama juga mengemukakan fakta mencengangkan. Sembilan dari sepuluh pengguna mengatakan fitur kantong berdampak pada keuangan yang lebih sehat.
Direktur Program dan Kebijakan Center of Policy Studies, Prasasti Piter Abdullah, menilai ini sebagai perubahan gaya hidup. “Sekarang tanpa ke bank bisa buka rekening. Satu rekening bisa punya banyak kantong. Berbagai ekosistem yang bergabung dalam keuangan ada sekarang,” kata Piter dalam keterangan di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Indef, Fadhila Maulida, menambahkan perspektif menarik. “Bank digital lebih ke enabler dari kebiasaan amplop-amplop itu menjadi digital,” ujarnya. Fitur kantong adalah digitalisasi kebiasaan lama yang diwariskan keluarga. Teknologi memperkuat praktik pengelolaan keuangan. Ia membuatnya lebih praktis, mudah dipantau, dan terintegrasi dengan aktivitas sehari-hari.
Survei Katadata Middle Class Insight (KIMCI) sebelumnya mencatat 51,8 persen kelas menengah memisahkan pengeluaran berdasarkan kebutuhan. Tiga kebiasaan teratas: merencanakan pengeluaran dan pendapatan (68 persen), membedakan uang tagihan dan harian (51,8 persen), dan mencatat pengeluaran (44,9 persen).
Piter menekankan edukasi ke UMKM sangat penting. Fitur kantong membantu pelaku usaha memisahkan modal, biaya operasional, dan tabungan. Ini meningkatkan disiplin keuangan secara real-time.
Dengan adopsi luas dan dampak positif, fitur kantong menjadi alat literasi keuangan digital. Bank dan regulator perlu terus mengedukasi masyarakat, terutama UMKM. Ke depan, kebiasaan konvensional “amplop” akan tergusur. Keuangan yang lebih sehat, terencana, dan inklusif semakin terjangkau. Teknologi bukan hanya memudahkan, tetapi juga mencerdaskan.
Pakar Ingatkan Disiplin untuk Kelas Menengah
Sebanyak 86 persen masyarakat Indonesia sudah tahu fitur “kantong” di bank digital. Fitur ini diadopsi Bank Jago, BCA, dan Mandiri. Survei terpisah mengungkap fakta menarik. Sembilan dari sepuluh pengguna merasakan keuangan lebih sehat. Temuan ini dirilis oleh lembaga survei terpercaya.
Direktur Program Center of Policy Studies, Prasasti Piter Abdullah, menilai digitalisasi keuangan sangat bermanfaat. Fitur kantong tidak hanya untuk pribadi. UMKM juga bisa terbantu. “Dengan kantong, kita tahu kondisi keuangan real-time,” ujar Piter di Jakarta, Jumat (22/5/2026). Peneliti Indef Fadhila Maulida menambahkan, bank digital menjadi enabler. “Amplop konvensional berubah jadi digital,” katanya.
Kepala Bidang Riset LPPI, Trioksa Siahaan, mengingatkan soal prioritas. “Kelas menengah harus disiplin. Bedakan kebutuhan esensial dan gaya hidup,” katanya. Survei Katadata Middle Class Insight (KIMCI) mencatat tiga kebiasaan utama. Pertama, merencanakan pengeluaran dan pendapatan (68 persen). Kedua, memisahkan tagihan bulanan dan harian (51,8 persen). Ketiga, mencatat pengeluaran (44,9 persen).
Piter mengatakan, “Sekarang tanpa ke bank bisa buka rekening. Satu rekening banyak kantong. Berbagai ekosistem tergabung.” Fadhila menekankan teknologi memperkuat praktik lama. Fitur kantong membuat pengelolaan keuangan praktis, mudah dipantau, dan terintegrasi. Trioksa menegaskan disiplin alokasi penghasilan sangat penting. Kebutuhan esensial harus didahulukan.
Riset LPPI menggunakan metode survei daring. Hampir 2.000 responden dari sepuluh kota besar dilibatkan. Kota-kota tersebut antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Palembang, Makassar, Denpasar, dan Balikpapan. Dengan adopsi luas dan dampak positif, fitur kantong menjadi alat literasi keuangan digital. UMKM dan kelas menengah diharapkan lebih sehat finansial. Bank dan regulator perlu terus mengedukasi masyarakat. Teknologi mencerdaskan sekaligus memudahkan.
Baca juga:Rupiah Melemah Seiring Ekspektasi Suku Bunga The Fed Bertahan Lebih Lama




Leave a Reply