nyingmavolunteer.org -Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Kamis di Jakarta. Rupiah turun 28 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.805 per dolar AS. Posisi ini melemah dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.777 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan pelemahan rupiah dipengaruhi data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kinerja kuat. Data tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap ketahanan ekonomi AS.
Penguatan data ekonomi AS mendorong dolar Amerika Serikat menguat terhadap mata uang global. Kondisi ini memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Rully menyebut pelaku pasar merespons positif indikator ekonomi AS, seperti data tenaga kerja dan konsumsi domestik. Sentimen tersebut mendorong aliran modal kembali ke aset berdenominasi dolar AS.
Di sisi lain, tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral AS juga memengaruhi volatilitas pasar keuangan.
Berdasarkan data pasar valuta asing, pergerakan rupiah sejalan dengan pelemahan mata uang Asia lainnya. Kondisi ini mencerminkan sentimen global yang masih berhati-hati terhadap aset berisiko.
Analis memperkirakan rupiah tetap bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan. Pelaku pasar akan mencermati rilis data ekonomi lanjutan dari AS dan kebijakan moneter global.
Baca juga:“MRT Kembangan – Balaraja Dorong Konektivitas dan Ekonomi Barat Jakarta”
Data Tenaga Kerja AS Tetap Kuat Meski Di Bawah Ekspektasi Pasar
Data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan pertumbuhan pada awal 2026, meski tidak memenuhi ekspektasi pasar. Laporan ini memperkuat persepsi ketahanan ekonomi AS di tengah ketidakpastian global.
Mengutip Anadolu, laporan ADP mencatat jumlah tenaga kerja nonpertanian swasta meningkat 22 ribu orang pada Januari 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 46 ribu pekerjaan baru.
Meski di bawah ekspektasi, data ini tetap menunjukkan ekspansi lapangan kerja di sektor swasta. Pertumbuhan tersebut menandakan aktivitas ekonomi AS masih berjalan stabil.
Pada 2025, pemberi kerja di AS menambah sekitar 398 ribu pekerjaan sepanjang tahun. Capaian ini menurun signifikan dibandingkan 771 ribu pekerjaan baru pada 2024.
Penurunan penambahan tenaga kerja mencerminkan penyesuaian dunia usaha terhadap kondisi suku bunga tinggi dan inflasi. Namun, pasar tenaga kerja AS dinilai tetap solid dibandingkan negara maju lainnya.
Analis menilai data ADP menjadi indikator penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve. Pertumbuhan tenaga kerja yang moderat membuka ruang bagi bank sentral menahan suku bunga lebih lama.
Pasar Tunggu Data Pertumbuhan Ekonomi BPS untuk Arah Rupiah
Pelaku pasar keuangan masih bersikap menunggu menjelang rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sentimen domestik ini memengaruhi pergerakan rupiah di tengah tekanan global.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut investor fokus pada data ekonomi yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik. “Pelaku pasar masih menunggu data pertumbuhan ekonomi yang akan diumumkan BPS siang ini,” ujar Rully.
Data pertumbuhan ekonomi menjadi indikator penting bagi pelaku pasar. Angka tersebut mencerminkan daya tahan ekonomi nasional di tengah perlambatan global.
Investor menggunakan data BPS sebagai dasar untuk menilai arah kebijakan fiskal dan moneter. Hasil rilis tersebut juga berpotensi memengaruhi arus modal dan stabilitas nilai tukar.
Sebelumnya, ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan stabil di atas 5 persen dalam beberapa tahun terakhir. Capaian tersebut menjadi bantalan penting bagi kepercayaan investor.
Namun, tekanan eksternal masih membayangi pergerakan pasar domestik. Penguatan dolar AS dan ketidakpastian kebijakan moneter global turut memengaruhi sentimen.
Analis menilai data ekonomi yang solid dapat menahan tekanan terhadap rupiah. Sebaliknya, angka di bawah ekspektasi berpotensi memicu volatilitas jangka pendek.
Baca juga:“DPR Minta BPJS Buat Jalur Darurat untuk Pasien Kronis JKN PBI”




Leave a Reply