Nyingma Volunteer – Amerika Serikat kembali memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB terkait perang di Gaza. Resolusi itu menyerukan gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen. Selain itu, Israel diminta mencabut pembatasan pengiriman bantuan ke Palestina.
Pada Kamis, 18 September 2025, rancangan resolusi ini memperoleh 14 suara mendukung. Namun, keputusan itu gagal karena AS menggunakan hak veto. Ini menjadi veto keenam yang dilakukan Washington sejak konflik Israel–Hamas pecah hampir dua tahun lalu.
“Baca Juga: Purbaya: Cukai Rokok Bunuh Industri, Tak Adil Tarik Triliun”+
Sebelum pemungutan suara, perwakilan sejumlah negara menyoroti kondisi kemanusiaan di Gaza. “Kelaparan telah dipastikan di Gaza — bukan diproyeksikan, bukan dideklarasikan, tetapi dikonfirmasi,” kata Duta Besar Denmark untuk PBB, Christina Markus Lassen, seperti dikutip Reuters.
Langkah AS memicu kekecewaan luas di kalangan negara anggota DK PBB. Banyak pihak menilai, veto itu semakin memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza. Situasi di lapangan menunjukkan ribuan warga sipil menghadapi keterbatasan makanan, air, dan obat-obatan.
Meskipun mayoritas anggota mendukung resolusi, kebuntuan kembali terjadi akibat posisi Amerika Serikat. Dukungan kuat terhadap Israel menegaskan konsistensi sikap Washington dalam forum internasional.
Ke depan, dinamika ini diperkirakan memperdalam polarisasi di Dewan Keamanan. Negara-negara pendukung Palestina menuntut langkah nyata untuk menghentikan perang. Sementara itu, AS tetap berargumen bahwa resolusi harus sejalan dengan kepentingan keamanan Israel.
AS Kembali AS Tolak Resolusi DK PBB, Krisis Gaza Kian Memburuk
Dalam pemungutan suara pada Kamis, 18 September 2025, sebanyak 14 negara anggota mendukung resolusi tersebut. Namun, langkah itu kandas setelah AS menolak, sehingga membuat upaya menghentikan perang kembali buntu. Sejak awal perang Israel–Hamas hampir dua tahun lalu, ini sudah menjadi veto keenam Washington.
Situasi di Gaza semakin kritis setelah Israel memperluas operasi militernya ke Kota Gaza. Ribuan warga sipil mengalami penderitaan yang kian berat. “Bencana kemanusiaan dan kegagalan moral ini tidak bisa diabaikan lagi,” tegas salah satu perwakilan DK PBB.
Bulan lalu, lembaga pemantau internasional menyatakan kondisi kelaparan di Gaza sudah masuk tahap konfirmasi, bukan sekadar perkiraan. Risiko meluasnya kelaparan ke wilayah lain menambah tekanan global untuk segera menghentikan pertempuran.
Meski secara tradisional AS selalu membela Israel di forum internasional, pekan lalu Washington sempat mendukung pernyataan DK yang mengecam serangan terhadap Qatar. Namun, veto terbaru memperlihatkan posisi konsisten AS dalam melindungi sekutunya.
“Baca Juga: China Masters 2025: Putri KW Tersingkir oleh Akane Yamaguchi”
Diplomat AS Morgan Ortagus menilai Hamas menjadi penyebab utama konflik. “Israel telah menyetujui usulan penghentian perang, tapi Hamas menolak. Jika mereka membebaskan sandera dan menyerahkan senjata, perang bisa berakhir hari ini,” katanya di hadapan dewan.
Sementara itu, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyebut negaranya kurang puas dengan pernyataan terkait Qatar. Namun, ia menegaskan kerja sama dengan AS tetap solid dan strategis.
Kebuntuan diplomasi di Dewan Keamanan memperkuat pandangan bahwa konflik akan terus berlanjut. Mayoritas negara menekan perlunya gencatan senjata, sementara AS tetap mengedepankan argumen keamanan Israel.




Leave a Reply